Selama bertahun-tahun, susu segar menjadi komoditas yang terpinggirkan dalam perumusan kebijakan pangan nasional. Pemerintah selama ini lebih berfokus pada swasembada beras, jagung, dan kedelai. Namun, situasi mulai berubah seiring pertumbuhan kelas menengah yang secara perlahan mendongkrak konsumsi susu secara nasional.
Pertanyaannya, sejauh mana kemampuan peternak lokal memasok lonjakan kebutuhan tersebut?
Pada 2025, kementerian Pertanian mencatat populasi sapi perah nasional mencapai 499.360 ekor dengan produksi susu segar dalam negeri (SSDN) sebesar 820.874 ton pertahun. Angka ini naik sekitar 65 persen jika dibandingkan dengan jumlah produksi pada tahun 2000. Kendati naik, basis produksinya masih sangat terpusat hanya di Pulau Jawa dengan Jawa Timur yang masih memimpin sebagai sentra produksi utama. Angka capaian sekitar 475.000 ton, baru kemudian susul oleh Jawa Barat dan Jawa Tengah.
capaian produksi itu sebetulnya masih jauh jika disandingkan dengan kebutuhan susu nasional. Pasalnya, kebutuhan nasional saat ini telah menyentuh angka 4,6 juta ton per tahun. Artinya, produksi lokal hanya mampu memenuhi sekitar 20-21 persen dari total kebutuhan.
Sisanya, sebanyak 80-81 persen harus dipenuhi dari impor. Porsi impor ini melonjak signifikan jika dibandingkan dengan era sebelumnya yang hanya berkisar 40 persen. Data Kementerian Pertanian mengonfirmasi adanya defisit pasokan sekitar 3,7 juta ton setiap tahunnya. Lantas apa yang menyebabkan produksi lokal sulit mengimbangi ? Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam kajiannya menyebutkan bahwa produktivitas menjadi faktor pembatas utamanya. Saat ini, rata-rata satu ekor sapi perah milik peternak rakyat hanya mampu menghasilkan 12,3-12,5 liter susu per hari. Angka ini tertinggal jauh di bawah produktivitas peternakan di Amerika Serikat dan Selandia Baru yang sanggup melampaui angka 30 liter per ekor per hari. Bukan hanya itu, mayoritas peternakan di Indonesia dikelola oleh peternak rakyat yang rata-rata hanya memelihara 3-5 ekor sapi. Keterbatasan inilah yang kemudian membatasi kemampuan peternak untuk mencapai skala ekonomi dan efisiensi.
Lalu, bagaimana struktur harga susu di tingkat peternak dalam menyikapi kondisi defisit ini?
Secara historis, harga susu segar di tingkat peternak dipatok dengan harga berkisar Rp 5.000-Rp 6.000 per liter. Harga ini sangat bergantung pada mutu, seperti kadar lemak, protein, berat jenis, dan tingkat cemaran bakteri yang terkandung susu itu sendiri.
Meski demikian, belakangan ini harga pembelian susu di tingkat peternak mulai mengalami perbaikan. Di Kota Batu, Jawa Timur, misalnya. Harga jual susu naik dari Rp 7.600 menjadi Rp 8.000 per liter pada 2026. Kenaikan harga ini terdorong oleh adanya insentif yang diberikan oleh industri pengolahan susu (IPS). Bahkan di sejumlah sentra peternakan lainnya, harga di tingkat peternak sudah mampu menyentuh level Rp 10.000 per liter.
Di balik margin per liter yang terbilang tipis, usaha peternakan sapi perah sebenarnya terbukti menguntungkan asalkan dijalankan dengan skala dan efisiensi yang tepat.
Berdasarkan kajian akademik dari sejumlah universitas, peternakan berskala menengah mampu mencatat penerimaan sekitar Rp 77 juta per tahun dengan komponen biaya mencapai Rp 38,7 juta. Ini berarti rasio R/C (penerimaan berbanding biaya) berada pada angka 1,98. Sementara pada skala besar, potensi keuntungannya bisa menembus angka Rp 464 juta per tahun, dengan *return on investment* (ROI) di kisaran 26,7 persen dan tingkat balik modal selama 3,7 tahun.
Lebih jauh lagi, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dalam catatannya menggarisbawahi bahwa keberhasilan usaha peternakan bertumpu setidaknya pada tiga hal pokok: efisiensi biaya pakan, pencapaian skala usaha yang memadai, dan kemampuan menciptakan produk olahan bernilai tambah.
Hal ini tecermin dengan minat investor terhadap industri sapi perah yanag mulai berkembang seiring peningkatan permintaan domestik yang didorong tren kelas menengah, urbanisasi, serta naiknya kesadaran atas pemenuhan gizi
Analis dari Bahana Sekuritas memproyeksikan adanya potensi tambahan permintaan setara 15 persen dari total pangsa pasar susu. Di segmen produk susu cair, potensinya bahkan mencapai 30 persen dalam dua tahun ke depan yang sebagian besar didukung oleh masifnya ekspansi di sektor kafe, restoran, dan katering.
Pertanyaannya, mampukah target pemerintah memacu produksi susu domestik ke level 2,4 juta ton dengan memompa populasi sapi perah hingga 1,8 juta ekor pada 2028 bisa terealisasi dengan kondisi peternak saat ini?
Catatan Sumber Data:
- CNBC Indonesia — Dulu RI Impor Susu 'Cuma' 40%, Kini Sudah di Atas 80% (populasi, produksi, porsi impor, harga rata-rata nasional 2024).
- GoodStats / BPS — Produksi susu segar nasional & per provinsi 2025.
- BRIN — Tantangan koperasi & produktivitas peternak; struktur oligopsoni.
- Bahana Sekuritas / IDX Channel — Proyeksi pertumbuhan permintaan susu domestik & prospek emiten dairy.
- Detik Jatim — Kenaikan harga susu peternak Kota Batu 2026.
- Journal Uniga & Ikopin — Harga susu tingkat peternak & harga jual koperasi ke IPS.
- Repository CIPS — Target populasi & produksi 2028; struktur rantai pasok.
- Trubus, UGM, IPB — Impor sapi bunting 2025 & dinamika harga sapi Australia.
- Kementan (money.kompas.com) — Kebutuhan sapi perah untuk swasembada.